JARINGAN SEKOLAH ISLAM TERPADU (JSIT)INDONESIA
Menu

Sinergi Sekolah dan Orang Tua, Kunci Melahirkan Generasi Cerdas, Shaleh, dan Berkarakter Islami

03 August 2026 By Admin Berita
Mempawah (03/08) --- Di tengah derasnya arus perkembangan zaman yang membawa berbagai tantangan bagi dunia pendidikan dan pengasuhan anak, satu pesan penting kembali digaungkan. Anak tidak cukup hanya dididik menjadi pintar, tetapi juga harus dibimbing menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, dan berkarakter Islami. Pesan inilah yang menjadi ruh dalam Seminar Parenting bertema "Sinergi Orang Tua dan sekolah dalam Membangun Generasi yang Cerdas, Shaleh, dan Berkarakter Islami" yang diselenggarakan oleh Yayasan Nurul Ummah Sekolah Islam Terpadu Anak Shaleh Mempawah bekerja sama dengan LMI dan Salimah, serta didukung oleh BSI Mempawah sebagai sponsor kegiatan pada Sabtu, 1 Agustus di Mempawah Convention Center (MCC). Seminar yang dihadiri ratusan orang tua siswa PAUD-SMPIT, guru, tenaga kependidikan, tokoh masyarakat, dan tamu undangan ini berlangsung penuh kehangatan, kekeluargaan, dan semangat belajar bersama. Dengan melibatkan Guru & tendik di Sekolah Anak Shaleh sebagai panitianya ini, Sejak awal acara, para peserta disambut dengan penampilan grup Marawis SDIT Anak Shaleh yang membawakan lantunan shalawat dengan merdu. Penampilan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi cerminan bahwa pendidikan karakter Islami telah ditanamkan kepada peserta didik melalui pembiasaan mencintai Rasulullah ? sejak usia dini. Suasana kemudian semakin khusyuk saat Ustadz Bayu Indra Pratama memimpin pembacaan doa. Seluruh hadirin menengadahkan tangan, memohon kepada Allah SWT agar setiap ikhtiar dalam mendidik anak-anak menjadi amal jariyah yang terus mengalir, serta melahirkan generasi yang membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Dalam sambutannya, Bapak Soni Miftahudin selaku Ketua Yayasan Nurul Ummah menegaskan bahwa pendidikan merupakan amanah besar yang tidak dapat dipikul oleh sekolah seorang diri. Menurut beliau, keberhasilan pendidikan lahir ketika sekolah dan orang tua memiliki visi yang sama, saling percaya, saling menguatkan, dan berjalan beriringan dalam mendampingi tumbuh kembang. Ia juga menyampaikan bahwa alumni dari sekolah anak shaleh saat ini juga banyak yang sedang melanjutkan studinya tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di manca negara, menandai bahwa para alumni juga dapat bersaing dan berani melangkah untuk belajar keluar negeri. "Sekolah adalah mitra orang tua, bukan pengganti orang tua. Ketika rumah dan sekolah memiliki tujuan yang sama, insya Allah akan lahir generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan siap menghadapi masa depan," ujarnya. Seminar secara resmi dibuka oleh Ibu Umi Jamila selaku Korwas Dinas Pendidikan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Nurul Ummah atas komitmennya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter peserta didik. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi unggul yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual secara seimbang. Puncak acara menghadirkan pemateri nasional, Hilmi Firdausi, yang membawakan materi dengan gaya penyampaian yang komunikatif, penuh hikmah, inspiratif, dan menyentuh hati. Ia mengajak seluruh orang tua untuk kembali menempatkan keluarga sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anak. Mengawali materinya, Hilmi mengajak para peserta merenungkan kisah Luqmanul Hakim yang diabadikan Allah SWT dalam QS. Luqman. Menurutnya, Al-Qur'an menampilkan dialog antara seorang ayah dengan anaknya bukan tanpa alasan. Dari dialog tersebut, Allah memberikan isyarat bahwa seorang ayah memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun karakter anak. Ia menggambarkan bahwa ayah adalah kepala sekolah di dalam rumah, pemimpin yang menentukan arah pendidikan keluarga, penanam nilai, penjaga visi, sekaligus teladan utama bagi anak-anaknya. Sementara itu, ibu adalah guru terbaik sekaligus pelaksana pendidikan sehari-hari, yang dengan penuh kasih sayang membersamai proses tumbuh kembang anak sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat. "Rumah adalah sekolah pertama. Ayah adalah kepala sekolahnya, sedangkan ibu adalah guru terbaiknya. Bila keduanya berjalan seiring, maka insya Allah akan lahir anak-anak yang kuat akidahnya, mulia akhlaknya, luas ilmunya, dan bermanfaat bagi umat," ungkapnya yang disambut tepuk tangan para peserta. Ia juga mengingatkan bahwa kesibukan mencari nafkah tidak boleh menjadi alasan bagi seorang ayah untuk menjauh dari proses pendidikan anak. Kehadiran, perhatian, pelukan, doa, dan keteladanan seorang ayah merupakan investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar materi. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Hilmi menegaskan bahwa kecerdasan intelektual akan menjadi lebih bermakna apabila dibangun di atas pondasi iman dan akhlak. Orang tua tidak boleh hanya bangga ketika anak memperoleh nilai tinggi atau meraih berbagai prestasi, tetapi juga harus merasa bangga ketika anak semakin mencintai shalat, gemar membaca Al-Qur'an, berbakti kepada orang tua, jujur dalam perkataan, santun dalam bersikap, dan peduli kepada sesama. Beliau mengajak seluruh orang tua untuk membangun budaya ibadah di rumah, memperbanyak dialog dengan anak, menjadi teladan dalam adab, serta menghadirkan suasana keluarga yang penuh kasih sayang. Menurutnya, sinergi yang harmonis antara rumah dan sekolah akan menjadi benteng terbaik dalam menghadapi berbagai tantangan era digital, sehingga anak-anak tetap tumbuh sebagai pribadi muslim yang kokoh, percaya diri, dan berakhlak mulia. Sepanjang seminar, suasana berlangsung sangat interaktif. Para peserta tampak antusias menyimak setiap pemaparan, mencatat berbagai poin penting, hingga aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan mengenai tantangan mendidik anak di era digital. Tidak sedikit peserta yang mengaku tersentuh dan termotivasi untuk memperbaiki kualitas komunikasi serta kebersamaan dalam keluarga. Sebagai penutup, direktur LMI *Rapanca Indra Mukti* menyampaikan penguatan mengenai kepedulian terhadap kondisi masyarakat Palestina. Melalui pemaparan yang menggugah empati, peserta diajak menyadari bahwa mendidik anak juga berarti menanamkan nilai kepedulian terhadap sesama muslim dan nilai-nilai kemanusiaan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penggalangan donasi untuk Palestina sebagai wujud nyata solidaritas dan cinta kasih kepada saudara-saudara yang tengah menghadapi berbagai ujian. Seminar Parenting ini bukan sekadar forum penyampaian materi, tetapi menjadi momentum memperkuat komitmen bersama bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab kolektif antara sekolah dan keluarga. Ketika sekolah menghadirkan ilmu, keluarga menguatkan keteladanan, dan masyarakat menciptakan lingkungan yang baik, maka insya Allah akan lahir generasi yang cerdas dalam berpikir, shaleh dalam beribadah, berkarakter Islami dalam berperilaku, serta siap menjadi pemimpin masa depan yang membawa rahmat dan manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Official Partner
profile image

Admin

Sekretariat Pusat

Email Kami 😃
sekretariat@jsit.id