Jakarta (07/07) --- Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia menyelenggarakan Training for Trainer (TFT) bertajuk _Pembelajaran Mendalam Kekhasan SIT Introflex Terpadu dan Ilman Wa Ruhan_ pada Sabtu hingga Minggu, 4-5 Juli 2026 di Hotel Sunlake, Jakarta Utara.
Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang merupakan perwakilan sekolah dan pengurus JSIT Wilayah dari seluruh Indonesia.
TFT ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas guru dan pengelola sekolah JSIT dalam mengimplementasikan pendekatan Pembelajaran Mendalam dan Pembelajaran Al Quran kekhasan SIT.
Dua tema utama yang diangkat, yaitu _Filosofi Pembelajaran Terpadu dengan menerapkan Introflex_ yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pengembangan kompetensi murid secara utuh. Pendekatan ini dirancang agar proses belajar tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi mampu menumbuhkan keimanan, karakter, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan memecahkan persoalan kehidupan melalui pengalaman belajar yang bermakna.
Tema lainnya adalah Pembelajaran Al Quran Ilman Wa Ruhan yang penerapannya diharapkan tidak hanya menghasilkan kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga melahirkan generasi yang memahami, menghayati, mengamalkan, serta menjadikan nilai-nilai Al-Qur'an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Umum JSIT Indonesia, Ahmad Fikri dalam sambutannya menyampaikan bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari penguatan guru sebagai ujung tombak.
"JSIT berkomitmen menghadirkan sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga kuat secara ruhiyah. Melalui _Introflex_ dan _Ilman Wa Ruhan_, kita ingin memastikan setiap proses belajar di kelas JSIT mampu menumbuhkan nalar, adab, dan iman peserta didik secara bersamaan," ujar Ahmad Fikri.
Selama dua hari, peserta mendapatkan pembekalan materi, praktik kelas, dan penyusunan rencana aksi yang akan dibawa kembali ke wilayah dan sekolah masing-masing.
Para fasilitator nasional menekankan pentingnya guru menjadi desainer pembelajaran yang mampu membaca kebutuhan murid dan menghubungkannya dengan nilai-nilai Islam.
Kepala Badiklat JSIT Indonesia menambahkan, antusiasme peserta sangat tinggi karena TFT ini menjawab tantangan guru dalam merancang pembelajaran yang bermakna di era saat ini.
"Diharapkan setelah kegiatan ini, para peserta bisa melakukan pengimbasan di wilayahnya masing-masing sehingga Pembelajaran Introflex Terpadu dan Ilman wa Ruhan bisa diimplementasikan oleh SIT di seluruh Indonesia," ujarnya.
Dengan selesainya TFT ini, JSIT Indonesia menargetkan terbangunnya ekosistem pembelajaran yang lebih holistik di seluruh jaringan sekolah, sehingga lulusan JSIT tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter dan berdaya juang.